Participatory
culture
Participatory culture atau Budaya partisipatif merupakan kata baru dalam referensi, tetapi berlawanan dengan budaya Konsumen – dengan kata lain budaya di mana orang pribadi (masyarakat) tidak bertindak sebagai konsumen saja, tetapi juga sebagai kontributor atau produsen (prosumers). Istilah ini paling sering diterapkan pada produksi atau penciptaan beberapa jenis media yang diterbitkan.
kemajuan terbaru dalam teknologi (komputer kebanyakan pribadi dan internet) telah memungkinkan orang pribadi untuk membuat dan mempublikasikan media tersebut, biasanya melalui internet. Ini budaya baru yang berkaitan dengan internet telah digambarkan sebagai Web 2.0. Dalam budaya partisipatif “orang-orang muda kreatif menanggapi sejumlah besar sinyal elektronik dan komoditas budaya dengan cara yang mengejutkan pembuat mereka, menemukan arti dan identitas tidak pernah dimaksudkan untuk berada di sana dan menentang nostrums sederhana yang meratapi manipulasi atau kepasifan dari” konsumen. “
Participatory culture atau Budaya partisipatif merupakan kata baru dalam referensi, tetapi berlawanan dengan budaya Konsumen – dengan kata lain budaya di mana orang pribadi (masyarakat) tidak bertindak sebagai konsumen saja, tetapi juga sebagai kontributor atau produsen (prosumers). Istilah ini paling sering diterapkan pada produksi atau penciptaan beberapa jenis media yang diterbitkan.
kemajuan terbaru dalam teknologi (komputer kebanyakan pribadi dan internet) telah memungkinkan orang pribadi untuk membuat dan mempublikasikan media tersebut, biasanya melalui internet. Ini budaya baru yang berkaitan dengan internet telah digambarkan sebagai Web 2.0. Dalam budaya partisipatif “orang-orang muda kreatif menanggapi sejumlah besar sinyal elektronik dan komoditas budaya dengan cara yang mengejutkan pembuat mereka, menemukan arti dan identitas tidak pernah dimaksudkan untuk berada di sana dan menentang nostrums sederhana yang meratapi manipulasi atau kepasifan dari” konsumen. “
memberikan
karakterisasi terhadap participatory
cultures dengan mendefinisikan sebagai sebuah budaya yang:
1. Hambatan untuk ekspresi seni maupun
keterlibatan masyarakat sipil relative rendah.
Umumnya
saat ini remaja atau masyarakat dapat terlibat dan berpartisipasi ke dalam
suatu komunitas online dengan mudah. Ada beberapa platform yang memberikan kemudahan penggunanya untuk stalking atau sekedar berselancar,
mengamati, menjadi silent reader saja.
Akan tetapi kebanyakan platform mengharuskan
seseorang untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu untuk dapat masuk dalam
komunitas dan berpartisipasi aktif (seperti mengunggah, mendownload, dan
berinteraksi dengan anggota lainnya). Untuk mendaftar ke dalam jejaringan
sosial maupun komunitas online tanpa hambatan yang berarti, untuk masuk atau
tergabung menjadi anggota dalam sebuah komunitas online adalah hal yang mudah
tidak ada syarat registrasi yang sulit. Salah satu syarat tergabung dalam suatu
komunitas adalah dengan mempunyai akun email saja. Setelah tergabung di dalamnya
remaja dengan mudah untuk terlibat secara aktif untuk saling bertukar infomasi,
foto, konten mengenai ketertarikan yang sama.
2. Memiliki dukungan kuat
untuk berkarya dan sekaligus berbagi karya dengan sesama partisipan.
yaitu keyakinan bahwa kontribusi
perorangan merupakan hal yang penting, baik sekedar menonton sampai memberikan
respon. Dalam berpatisipasi memiliki tingkatan-tingkatan dari pengguna aktif
dan pasif bahkan sebagai silent reader
(pengguna yang hanya sekedar .mengamati tanpa melakukan respon berupa
komen ataupun melakukan aktivitas seperti menggunggah dan mendownload).
3. Memiliki semacam informal
mentorship, berupa pembagian ilmu dari yang berpengalaman kepada pemula.
Dalam
suatu komunitas online pastinya terdapat anggota yang telah lama tergabung
didalamnya, acapkali komunitas di suatu situs web tertentu membuat suatu role play yang menjadi ciri khas atau
identitas dari komunitas tersebut. Contohnya dalam situs kaskus yang merupakan
komunitas berupa forum diskusi online yang telah menciptakan istilah-istilah
bahasa baru (bahasa slang) yang
hanya digunakan dalam situs tersebut dan hanya mereka yang benar-benar menjadi
bagian dari anggota yang terkadang memahami mengenai pengertian dari bahasa
tersebut. Adanya sebutan seperti mastah,
dimana sebutan ini merujuk pada mereka yang telah berpengalaman
(biasanya bergabung dalam waktu yang cukup lama dan berpartisipasi aktif).
Biasanya seseorang yang disebut mastah
ini merupakan seseorang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan lebih (expert dibidangnya) dibandingkan yang
lainnya dan seringkali menjadi bahan rujukan dari pengguna lainnya.
4. Di dalamnya para member percaya bahwa
kontribusi mereka berarti.
Mereka
menyadari bahwa sekecil apapun bentuk partisipasi yang dilakukannya telah
memberikan kontribusi dalam komunitasnya tersebut karena antara satu member
dengan yang lainnya ketika mereka telah bergabung dalam suatu komunitas maka
mereka telah dianggap menjadi bagian dari komunitas tersebut. Rasa solidaritas
yang tinggi dan saling menjaga satu sama lain terlihat dari mereka yang
memberikan respon berupa komentar
terhadap konten yang diunggah atau diposting oleh anggota lain.
5. Dan dimana para member
merasakan tingkatan koneksi sosial dengan anggota yang lain.
Perasaan akan adanya hubungan sosial (sense of connection). Ketika
seseorang bergabung dalam suatu komunitas online maka meraka telah dianggap
menjadi salah satu bagian dari komunitas tersebut. Pada tingkatan pengguna
apapu mereka menganggap atu memiliki keyakinan bahwa mereka telah mendapat
informasi dan menjadi bagian dari komunitas tersebut.
Mobilitas
Mobilitas
berasal dari kata mobilis, yang artinya mudah bermobilitas atau mudah
dipindahkan. Mobilitas sosial (social mobility) adalah suatu mobilitas
dalam struktur sosial, yaitu pola
tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
Mobilitas
sosial terjadi pada semua masyarakat meskipun dengan kecepatan yang
berbeda-beda, sesuai dengan sistem yang diterapkan masyarakat dalam menyusun
kehidupan sosialnya atau bermasyarakat.
Definisi mobilitas sosial
menurut beberapa ahli sosiologi :
•William
Kornblum (1988: 172)
Mobilitas
sosial adalah perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga, dan
kelompok
sosialnya dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya.
•Michael
S. Basis (1988: 276)
Mobilitas
sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah lingkungan
sosioekonomi
yang mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.
•H.
Edward Ransford (Sunarto, 2001: 108)
Mobilitas
sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah dalam
lingkungan sosial secara hierarki.
•Kimball
Young dan Raymond W. Mack (Soekanto, 2001: 275)
Mobilitas
sosial adalah suatu mobilitas dalam struktur sosial, yaitu pola-pola
tertentu
yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
Jadi,
mobilitas sosial adalah suatu perubahan atau perpindahan kelas sosial, baik ke
atas
maupun ke bawah, yang dialami oleh individu atau kelompok sosial, sehingga
memberikan
dampak berupa kelas baru yang diperoleh individu atau kelompok tadi.
Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang
menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan
kelompok dengan kelompok. Tanpa adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin
ada kehidupan bersama. Proses sosial adalah suatu interaksi atau
hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antar manusia yang berlangsung
sepanjang hidupnya didalam amasyarakat.
Menurut Soerjono Soekanto, proses sosial
diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan
kelompok-kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk
hubungan sosial.
Menurut
Burke & Stets (1998), identitas sosial merupakan kategorisasi-diri dalam
hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang terkait dalam menjadi anggota
kategori sosial. Dengan penekanan yang lebih besar pada identifikasi kelompok,
berfokus pada hasil kognitif seperti ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok.
Kemudian
Tajfel (dalam Taylor, Peplau & Sears, 2009) menyatakan bahwa social
Identity adalah bagian dari konsep diri individu yang berasal dari
keanggotaannya dalam satu kelompok sosial (atau kelompok-kelompok sosial) dan
nilai serta signifikasi emosional yang ada dilekatkan dalam keanggotaan itu.
Penyebab
dan dampak Participatory
culture
Partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan
politik, seperti memilih pimpinan negara atau upaya-upaya memengaruhi kebijakan
pemerintah. Menurut Myron Weiner, terdapat lima penyebab timbulnya gerakan ke
arah partisipasi lebih luas dalam proses politik, yaitu:
a. Modernisasi dalam segala bidang
kehidupan yang menyebabkan masyarakat makin banyak menuntut untuk ikut dalam
kekuasaan politik.
b. Perubahan-perubahan struktur kelas
sosial. Masalah siapa yang berhak berpartisipasi dan pembuatan keputusan
politik menjadi penting dan mengakibatkan perubahan dalam pola partisipasi
politik.
c. Pengaruh kaum intelektual dan
komunikasi masa modern. Ide demokratisasi partisipasi telah menyebar ke
bangsa-bangsa baru sebelum mereka mengembangkan modernisasi dan industrialisasi
yang cukup matang.
d. Konflik antarkelompok pemimpin politik. Jika timbul konflik antarelite, maka yang dicari adalah dukungan rakyat. Terjadi perjuangan kelas menentang melawan kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan membantu memperluas hak pilih rakyat.
d. Konflik antarkelompok pemimpin politik. Jika timbul konflik antarelite, maka yang dicari adalah dukungan rakyat. Terjadi perjuangan kelas menentang melawan kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan membantu memperluas hak pilih rakyat.
e. Keterlibatan pemerintah yang meluas
dalam urusan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Meluasnya ruang lingkup aktivitas
pemerintah sering merangsang timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisasi
akan kesempatan untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan politik.
Daftar
pustaka
http://www.sridianti.com/budaya-politik-partisipan.html